Minggu, 17 Oktober 2010

SEJARAH TAMAN SARI

TAMANSARI

Tamansari dalam banyak cerita kadang-kadang dibelokkan atau dicitrakan sebagai taman firdaus,ataupun taman surga tempat raja, khususnya bersenang-senang mengunbar hawa nafsu seksual kepada wanita kawulanya. Namun, dalam keyakinan kami para kawula alit sesungguhnya konsep taman sari adalah sebuah konsep pertahanan yakni suatu bangunan yangt di bangun berdasarkan konsep perlawanan terhadap kolonial. Di gunakan sebagai tempat melarikan diri bila suatu saat keraton ngayoyakarta hadiningrat terpaksa harus di tinggalkan.
Pada zamanya sebagai mana sri sultan HB 1 menganti utusan dari berbagai telatah di ngayoyakarta hadiningrat. Utusan itu bukan alagi parajurit pria tetapi para wanita yang gagah berani. Para utusan wanita ini diterima dan ditemui oleh sinuwun HB 1 ditamansari. Belanda menyangka bahwa sultann hanya ingin bersenang-senang dengan para wanita itu. Padahal sesungguhnya mereka adalah utusan-utusan dari daerah yang akan memberi laporan dan menerima intruksi.
Ditamansari ini sri sultan HB 1 memberi laporan dan memberi intruksi pada wanita tersebut. Bila, mereka tiba ditamansari, mereka akan diperintah buntuk mandi sebagai mana wanita penghibur. Namun sesungguhnya mereka akan dipanggil satu persatu oleh sinuwun HB 1, dimintai laporan, diberi intruksi, pemerintahan HB 1 dalam rangka melawan belanda.
Itulah sebabnya dalam tamansari terdapat bangsal-bangsal yang sangat rumit. Salah satunya adalah sumur gumuling atau tempat beribadah raja. Lantai pertama adalah untuk wanita sedangkan lantai kedua untuk pria. Dikedua lantai tersebut terdapat pengimaman yang menghadat kebarat. Ditengahnya terdapat tangga lima, menunjukan rukun islam yang lima. Langit sumur gumuling adalah langit terbuka sehingga menjadi semacam suatu harapan apabila sinuwun rindu akan ka’bah tullah atau rumah tuhan dimekah. Maka sinuwun akan bertawaf mengelilingi sumur gumuling tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar